Posted:BY Tonomaryono
Sebuah komputer tidak akan
mampu dioperasikan bila tidak
memiliki sistem operasi. Sistem
ini merupakan perangkat lunak
level pertama. Artinya,
perangkat lunak lain seperti
Winamp, Adobe Photoshop,
dan Macromedia Flash,
dijalankan di atas sistem operasi.
Karena berbagai perangkat
lunak berjalan di atasnya, sistem
operasi harus bisa menyediakan
berbagai layanan agar perangkat
lunak yang berjalan mampu
mengakses berbagai sumber daya
komputer. Untuk menjamin itu,
secara umum, sistem operasi
memiliki 4 tugas pokok, yaitu,
seperti pernah dipaparkan pada
PCplus edisi 186 di rubrik yang
sama, manajemen prosesor,
manajemen memori, manajemen
device, dan menyediakan
antarmuka bagi aplikasi dan
pengguna.
Tugas-tugas pokok itu, walau
mungkin tidak hanya terbatas 4
tugas yang sudah disebutkan,
akan selalu menjadi bagian dari
sistem operasi. Oleh para
pembuat sistem operasi, agar
mereka tidak terus-menerus
membuat sesuatu yang sama,
tugas-tugas pokok itu kemudian
disatukan. Hasil penyatuan itulah
yang disebut dengan kernel.
Karena kernel dibuat sekali
dan digunakan berulang-ulang
demi kepraktisan pemrograman,
Berdasarkan ringkasan
informasi perangkat keras,
kernel dibagi menjadi 4.
Kategori yang ada adalah
monolithic kernel, microkernel,
hybrid, dan exokernel. Mari
jelajah satu per satu.
Monolithic kernel sering
disebut sebagai antarmuka
virtual level tinggi dengan
perangkat keras. Mengapa
disebut demikian? Alasannya
adalah karena monolithic kernel
menyediakan ikhtisar yang
sangat lengkap. Saking
lengkapnya, hampir seluruh
tugas-tugas pokok sistem
operasi disatukan ke dalam
kernel jenis ini.
Monolithic kernel memiliki
keuntungan sekaligus kerugian
akibat penyatuan berbagai tugas.
Kerugiannya adalah saat sebuah
bug muncul, sistem langsung
rusak, tidak bisa digunakan.
Namun bila sebuah monolithic
kernel sudah sempurna, kernel
yang digunakan oleh Linux dan
FreeBSD ini bisa sangat efisien.
Berbagai macam akses terhadap
perangkat keras, bahkan sampai
level terendah, bisa diakses
dengan mudah.